Cerita tentang Lomba Burung Perkutut

Sudah lama tidak update content di blog ini, saatnya bercerita lagi. Jadi ceritanya ada lomba Lomba Seni Suara Burung Perkutut Nasional, Paku Alam Cup VII di Alun-Alun Kidul Yogyakarta pada hari Minggu, 14 Juli 2019. Kali pertama saya melihat lomba seperti ini. Awalnya hanya iseng lewat, namun rasa penasaran itu muncul ketika banyak penonton berteriak sambil menyebut angka. Saling bersahutan dan masing-masing punya andalan angka sambil menyebut nama seseorang. Dan kemudian saya ketahui bahwa angka itu adalah angka tiang dimana sangkar itu berada. Nama yang dipanggil-panggil adalah juri yang berada dalam arena lomba. Rasanya mereka juga bukan penonton biasa, namun saya yakin mereka ini adalah yang punya burung atau supporter burung yang ikut berlomba.

Bahwa burung-burung ini adalah burung spesialis kompetisi dan harganya bisa jadi sangat mahal, itu saya sudah ketahui. Bahkan jika ada yang harganya ratusan juta rupiah, itu juga mungkin saja. Yang membuat saya makin percaya bahwa ini adalah bisnis yang melibatkan uang besar adalah jajaran mobil yang diparkir dan profil orang-orang disekitar arena lomba. Tidaklah sulit membedakan tongkrongan juragan/cukong/boss diantara rakyat biasa. Jajaran Pajero, Fortuner, Innova dan juga mobil-mobil berusia muda juga menunjukkan strata sosial mereka.

Tanpa banyak bercerita, silakan klik masing-masing foto karena ada caption yang ingin saya ceritakan disana. Beruntung juga membawa kamera yang hasil fotonya bisa langsung di upload alias layak tayang (menurut saya) tanpa harus melakukan proses editing lebih lanjut. Semuanya bisa diceritakan dari sebuah hape tanpa harus ribet buka laptop untuk sekedar ngedit gambar, ngetik ataupun online (karena sejatinya saya malas buka laptop hehehe).

Penonton, pengunjung ataupun supporter dipisahkan oleh tali pembatas dan dilarang memasuki area perlombaan
Saya merasa mereka bukan penonton biasa karena dengan bersemangat menyebutkan nomor jagoan mereka
Teriakan demi teriakan untuk mendapatkan perhatian juri agar memberikan penilaian dengan menancapkan bendera dibawah tiang burung yang mereka jagokan.
Teriknya matahari bukan halangan untuk meredupkan semangat mereka untuk berlomba
Informasi yang saya dapat, ada 2 perlombaan. Kelas yunior dan kelas senior. Untuk kelas senior, sangkar dipasang di tiang tinggi seperti di foto ini.
Saya tidak tahu apa sebutan petugas ini, tapi tugasnya adalah meletakkan bendera sesuai dengan perintah juri. Jumlah bendera dan warna bendera nantinya akan menentukan siapa yang jadi juara.
Para panitia lomba dan piala buat para pemenang lomba.
Saya merasa beliau berdua ini bukan peserta biasa karena banyak orang yang menyalami dan nampaknya menaruh hormat dengan beliau.
Perlombaan untuk kelas junior dimana sangkar dipasang tidak terlalu tinggi dan dengan jarak antar sangkar yang berdekatan.
Saya sebenarnya tertarik juga dengan desain dan warna-warni sangkar yang digunakan. Saya yakin masing-masing memiliki makna dan nilai yang unik bagi empunya.
Saya yakin tidak sembarangan orang bisa menjadi juri, karena harus bisa mengetahui burung mana yang berkicau dan berapa nilai yang diberikan melalui warna bendera. Telinga mereka juga harus super sensitive mendengar kicau burung. Sementara dibelakang mereka para supporter meneriakkan nomor andalan mereka.
Piala bergilir yang tentunya sangat bergengsi dan akan menambah reputasi burung yang berlomba.
Piala utama dikelilingi piala lainnya
Organisasi tempat mereka bernaung
Jajaran mobil yang diparkir di Alun-Alun Kidul Yogyakarta.
Rasanya bukan hanya berasal dari Yogyakarta, namun mereka berasal dari berbagai daerah. Karena saya mendengar mereka berkomunikasi dengan bahasa atau dialek Jawa, Sunda, Suroboyoan, Madura atau daerah lainnya.
Panggung perlombaan
Piala pemenang
Bendera-bendera yang menjadi penentu kemenangan
Jajaran peserta lomba kelas junior
Bahkan sangkar burung pun bisa terlihat begitu indah
Panas? Who cares? Just sit down, relax and enjoy it 🙂
Kursi dengan payung tambahan dan tempat menyimpan minuman di sisi kanan. So perfect.
Penempatan bendera yang melegakan empunya
Jatah makan siang
Hanya para juri yang diperbolehkan berada dalam area perlombaan.
Selamat datang para peserta perlombaan
Karena mereka mempunya kecintaan yang sama, hobby yang sama ataupun passion yang sama, membentuk kelompok atau organisasi adalah koentji agar mereka bisa saling belajar.
Advertisements

One thought on “Cerita tentang Lomba Burung Perkutut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s