Kita hidup mencari bahagia

“Mas, Kayla dijemput jam berapa malam ini?”
Pertanyaan sopir yang selama ini mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah kepada saya. Malam ini Kayla dan teman-teman seangkatan dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta setelah melaksanakan karyawisata dan telah menginap 1 malam di Bandung, diperkirakan sampai di sekolah saat malam hari. Dan sampai saya menggugah tulisan ini di blog, saya masih menunggu di parkiran sekolah. Membayangkan kondisi lalu lintas menuju Jakarta, perkiraan saya dia sampai di sekolah diatas jam 10 malam. Sebenarnya bisa saja saya bilang jam berapa dan dia akan berangkat serta menunggu Kayla di sekolah. Dia akan lakukan karena memang tugas dia untuk antar/jemput anak-anak ke sekolah. Namun saya putuskan, saya sendiri yang akan jemput Kayla. Walau mungkin saya bisa leyeh-leyeh sambil nonton televisi atau surfing internet di rumah jika dia dijemput sopir. Tapi, alasan kenapa saya mau menjemput sendiri adalah saya ingin berdua dengan anak saya.


Waktu adalah sesuatu yang sulit dicari dan bahkan terkadang sangat mahal. Coba berapa kali anda gagal bertemu dengan teman-teman lama untuk reuni karena waktu yang tidak pernah pas. Atau betapa mahal tiket yang harus ditebus untuk mudik karena itulah waktu yang anda luangkan untuk pulang kampung. Atau anda harus mendaki bukit dan bangun sangat pagi demi menikmati indahnya matahari terbit di Gunung Bromo. Semua akan kita lakukan agar bisa membuat moment yang berkesan. Iya, saya menyebutnya moment. Saya kurang tahu apa padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk kata moment. Namun saya yakin banyak yang mengerti maksudnya. Moment memang bisa tercipta begitu saja tanpa disengaja. Namun di jaman seperti ini, kita tidak bisa menunggu keajaiban karena memang moment jarang sekali tercipta. Namun kabar baiknya, moment bisa diciptakan.

Moment bisa berdua (baik dengan pasangan ataupun anak-anak), bicara tentang hal-hal ringan, ngobrol atau guyon justru banyak tercipta saat kita bepergian di dalam mobil. Bukan lagi di kamar tidur, meja makan atau di ruang keluarga bahkan di lounge sebuah kafe. Apalagi jika anda tinggal di Jakarta dimana mobil sudah seperti rumah atau kantor kedua. Bahkan kita akan makin mengenal kolega kita saat ngobrol semobil menuju kantor klien untuk presentasi. Kita bebas membahas apa saja, mulai politik, selebritis, gossip, suasana kantor, bahkan membahas masalah pribadi sekalipun. Dan tanpa disadari, kita makin membuka diri tentang siapa kita sebenarnya. Kalaupun ada yang tertidur, tapi setidaknya kita pernah bicara.

Malam ini saya hanya ingin berdua dengan anak saya yang mulai beranjak remaja, karena mungkin ini adalah moment yang berharga. Kalaupun nanti kami bisa banyak bicara dan berbagi cerita, itu sudah lebih dari cukup untuk membawa bahagia. Kalaupun nanti dia tertidur di mobil saat menuju rumah, bagi saya tidak apa-apa dan saya tetap bahagia. Saya tahu dia lelah dan mengantuk. Jika ia tertidur nyenyak, saya berharap itu karena dia merasa aman dan nyaman karena sudah bersama bapaknya, yang sampai saat ini masih banyak kekurangan dan masih berusaha menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. InsyaAllah saya tidak akan merasa lelah untuk mencari atau mencipta moment untuk bisa bahagia. Dan bahagia itu juga bisa dengan mudah kita temukan atau diciptakan secara sederhana.

Bukankah kita hidup mencari bahagia?

Bukankah karena bahagiamu, bahagiaku pasti?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s