Eid Al-Fitr 1437H

Lebaran adalah saat kita menyempatkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Kita rela berjuang menembus macet, membeli tiket transportasi umum, tetap terjaga dalam mengemudi menuju kampung halaman. Kita menyebutnya dengan “Mudik”. Mudik secara awam dimaknai sebagai aktivitas pulang kampung untuk sowan dan bertemu dengan orang tua atau para sesepuh yang dituakan atau dengan para saudara. Bagi yang bukan perantauan, mudik tetap dimaknai dengan aktivitas bepergian berkunjung ke saudara, kembali ke asal.

 

Ngawi adalah kota kelahiran dan tempat saya dibesarkan, tempat orang tua dan keluarga besar saya menetap. Jadi bagi saya, mudik itu ya ke Ngawi. Dan ketika sudah berkeluarga pun, saya dan istri akan berbagi waktu untuk bisa mudik ke Ngawi. Seperti halnya para pemudik lainnya, bagi saya saat mudik ke Ngawi adalah saat untuk memanjakan lidah dan mengolah rasa nostalgia. Juga momen untuk mengenalkan tradisi ataupun kekayaan kultural kepada anak-anak kami, khususnya kekayaan kuliner. Banyak pilihan kuliner saat kita mudik, mulai dari home-made cooking ala Ibu atau kuliner khas yang banyak ditemukan dan dijajakan di penjuru kota. Biasanya Ibu sudah mulai menyiapkan makanan itu pada H-1 sebelum lebaran, sehingga pada saat lebaran, semuanya sudah siap untuk dibagi dan dihidangkan. Iya, lebaran adalah saat kita berbagi. Berbagi maaf, berbagi waktu, berbagi moment dan berbagi bahagia.

Lebaran tahun ini ada yang berbeda dalam ritual mudik kami. Iya, saya dan keluarga tidak mudik ke Ngawi. Tahun ini kami berbagi dengan keluarga kami yang lainnya. Karena kendala jarak yang jauh, maka tidak akan mungkin kami bisa berpindah dari Jakarta ke Ngawi dan ke Paris dalam waktu singkat. Tahun ini kami mengunjungi keluarga adik istri yang bermukim di Paris. Ini adalah kali kedua kami merayakan lebaran diluar Indonesia. Tahun 2008 di Skotlandia, saat adik ipar masih single dan kuliah disana. Dan tahun 2016 ini di Perancis, saat dia sudah berkeluarga, punya anak 1 dan sedang mengandung anak kedua. Ini adalah lebaran kali pertama bagi Kayla dan Aurelia bisa berkumpul dengan sepupu mereka di Paris. Karena lebaran tahun ini membutuhkan persiapan yang panjang, maka komunikasi dengan orang tua dan keluarga saya di Ngawi, saya lakukan dari jauh hari. Mereka bisa mengerti dan memahami jika lebaran tahun ini, kami belum bisa berkumpul di Ngawi.

Pada akhirnya, makna lebaran tahun ini bagi saya adalah berbagi. Saya yang hanya ada satu di dunia ini dan dengan segala keterbatasannya harus mampu berbagi dengan yang lain. Berbagi waktu, rejeki, pengalaman, inspirasi, cerita, suka, duka dan jika dimungkinkan adalah berbagi bahagia. Berbagi dengan siapa saja tanpa melihat suku, agama atau golongan apapun.

 

Selamat Idul Fitri 1437H. Mohon maaf lahir batin.

Paris, 5 Juli 2016

 

Selamat Idul Fitri 1437H dari Ville D’Avray

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s